Selain digunakan sebagai alat
komunikasi secara lisan dan tulisan. Apalagi bahasa dalam bentuk tulisan yang sangat dibutuhkan dalam berbisnis dan
bernegara. Bila salah dalam menulis dan ejaan maka bisa menimbulkan masalah
seperti salah paham dan salah tafsir.
Di Indonesia, masalah ejaan dan
penulisan kata adalah menjadi masalah yang sering terjadi, contoh yang paling
umum iklan “DI JUAL RUMAH, tanpa
perantara, hubungi 021 1234567” kata DI yang ditulis terpisah menjadi kata
depan, padahal kata DI berfungsi sebagai
imbuhan “di” seharusnya ditulis serangkai dengan kata jual, di+jual menjadi
DIJUAL, bukan di jual (nama kota atau tempat). Dengan demikian bahasa mnjadi
benar-benar berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan benar,
dengan penyampaian informasi secara tertulis yang benar, diharapkan masyarakat
dapat menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang memilik peran yang cukup
besar dalam mengatur tata tertib berbahasa tulisan sehingga setiap informasi
dapat disampaikan dengan baik, benar dan tepat sasaran.
Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang
menjadi dasar bentukan kata berimbuhan. Misalnya dalam bahasa Indonesia, kata makan adalah kata dasar dari kata makanan.
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu
kesatuan. Misalnya:
Mereka makan tiga
kali sehari.
Kata Turunan (Imbuhan)
Kata Turunan ialah
kata dasar yang telah dirangkai dengan imbuhan yang disebut juga Afiks adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata
– entah di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara tiga itu –
untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata dasar atau kata yang
pertama.
Imbuhan digolongkan berdasarkan posisi penambahannya
sebagai berikut:
1. awalan
2. Sisipan
3. Akhiran
4. konfiks
Misalnya:
baca + di = dibaca (pemenggalannya: di-ba-ca)
gigi + er = gerigi (pemenggalannya: ge-ri-gi)
baca + an = bacaan (pemenggalannya: ba-ca-an)
dibaca + kan = dibacakan
gerigi + ber = bergerigi
Morfem-morfem terikat di-, -er-, -an, -kan, dan
ber- itulah yang disebut imbuhan atau afiks.
2. Fungsi Imbuhan
Imbuhan, dalam bahasa Indonesia, berfungsi sebagai
pembeda arti. Suatu kata akan berubah artinya jika mendapat imbuhan tertentu.
Suatu kata juga akan berbeda artinya jika mendapat imbuhan yang berbeda.
Misalnya:
Kata dimakan ≠ memakan ≠termakan ≠ pemakan ≠ makanan,
meskipun berasal dari kata dasar yang sama, yaitu makan
3. Jenis-jenis Imbuhan
Berdasarkan posisinya, imbuhan dapat dibeda-kan atas
tiga jenis, yaitu:
1. Awalan atau prefiks, yang meliputi: ber-, se-, me-,
di-, ter-, ke-, pe-, dan pe/’-.
2. Sisipan atau infiks, yang meliputi: -er-, -el-, dan
-em-.
3. Akhiran atau sufiks, yang meliputi: -i, -kan, -an,
-nya, -wan, -wati, dan -man.
Itulah pengertian, jenis dan fungsi imbuhan
Kesalahan Kata Imbuhan
- Kesalahan
penggunaan imbuhan yang salah atau tidak tepat.
- Tidak menggunakan imbuhan pada
kata yang memerlukan.
- Menggunakan imbuhan pada kata
yang tidak memerlukan.
Penulisan
1. a. Imbuhan
(awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan
dipermainkan
gemetar
kemauan
lukisan
menengok
petani
b. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda
hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa
Indonesia.
Misalnya:
mem-PHK-kan
di-PTUN-kan
di-upgrade
me-recall
2. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan
kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti
atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf
E, Butir 5.)
Misalnya:
bertepuk tangan
garis bawahi
menganak sungai
sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa
gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu
ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf
E, Butir 5.)Misalnya:
dilipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
penghancurleburan
pertanggungjawaban
Gabungan Kata atau Kata Majemuk adalah gabungan kata-kata
yang membentuk makna baru yang salah satu katanya bukan predikat (non
predikatif). Contohnya kata rumah makan yang bermakna baru yaitu restoran. Kata
makan bukan sebagai predikat.
Penulisan kata
majemuk
Penulisan Kata majemuk ada tiga cara, yaitu:
1.
Penulisan terpisah
2.
Penulisan dengan tanda hubung, dan
3.
Penulisan serangkai
1. Unsur unsur gabungan kata yang lazim
disebut kata majemuk ditulis terpisah.
Misalnya:
duta
besar
|
model
linear
|
kambing
hitam
|
orang
tua
|
simpang
empat
|
persegi
panjang
|
mata
pelajaran
|
rumah
sakit umum
|
meja
tulis
|
kereta
api cepat luar biasa
|
2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan
kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara
unsur unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yangbersangkutan.
Misalnya:
anak-istri
Ali
|
anak
istri-Ali
|
ibu-bapak
kami
|
ibu
bapak-kami
|
buku-sejarah
baru
|
buku
sejarah-baru
|
3. Gabungan kata yang dirasakan sudah padu
benar ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali
|
darmasiswa
|
puspawarna
|
adakalanya
|
darmawisata
|
radioaktif
|
akhirulkalam
|
dukacita
|
saptamarga
|
alhamdulillah
|
halalbihalal
|
saputangan
|
astagfirullah
|
kacamata
|
sebagaimana
|
bilamana
|
manasuka
|
sukarela
|
bismillah
|
matahari
|
sukaria
|
bumiputra
|
padahal
|
syahbandar
|
daripada
|
peribahasa
|
waralaba
|
Kata Sandang
Kata si dan sang, Kata si dan sang ditulis terpisah
dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
·
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
·
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
·
Ibu itu membelikan sang suami sebuah laptop.
·
Siti mematuhi nasihat sang kakak.
Catatan:
Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika
kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.Misalnya:
·
Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.
·
Dalam cerita itu Si Buta dari Goa Hantu
berkelahi dengan musuhnya.
Partikel
Partikel lah, kah, per, pun dan tah ada yang ditulis
serangkai, ada yang terpisah.
1. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah
dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahannya, dia dapat
mengatasinya dengan bijaksana.
Hendak pulang
tengah malam pun sudah ada
kendaraan.
Jangankan dua
kali, satu kali pun engkau belum
pernah datang ke rumahku.
Jika Ayah
membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.
Catatan:
Partikel pun
pada gabungan yang lazim dianggap padu
ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Misalnya:
Adapun sebab sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga, tugas itu akan
diselesaikannya.
Baik laki laki
maupun perempuan ikut
berdemonstrasi.
Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya
dapat dijadikan pegangan.
Walaupun sederhana, rumah itu tampak
asri.
3. Partikel per yang berarti ‘demi’,
‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk
ke dalam ruang satu per satu.
Harga kain itu
Rp50.000,00 per helai.
Pegawai negeri
mendapat kenaikan gaji per 1
Januari.
Per yang ditulis
serangkai
Misalnya:
|
||||||
Catatan:
|
||||||
Misalnya:
|
Dari hasil pembahasan di atas maka kami dapat menarik
kesimpulan:
1.
Kata dasar ialah kata yang menjadi dasar kata
berimbuhan (kata turunan)
2.
Kata Turunan ialah kata dasar yang telah
dirangkai dengan imbuhan
3.
Kata sandang adalah kata yang tidak memiliki
arti tapi menjelaskan kata benda, contohnya adalah si, dan sang
4.
Kata Ulang atau reduplikasi adalah Kata jadian
yang terbentuk dengan pengulangan kata.
5. Gabungan
kata (kata majemuk) adalah gabungan dua kata atau lebih yang menghasilkan makna baru yang
ditulis terpisah atau serangkai
6. Kata
ganti adalah kata yang dipergunakan untuk menggantikan benda atau sesuatu yang
dibendakan.
7.
Partikel lah, kah, per, pun dan tah ada yang
ditulis serangkai, ada yang terpisah.
Sumber Bacaan
Depdiknas
RI, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
“Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Yrama Widya, 2009

No comments:
Post a Comment